![]() |
Karikatur ©Sudi Purwono |
Politik menjadi kotor bukan karena banyaknya orang jahat, tapi sedikitnya orang baik yang mau terlibat.
Setelah melalui masa yang cukup panjang--tiga periode pemerintahan--reformasi yang kita cita-citakan memang seakan mati layu. Bagi sebagian orang, Indonesia kini memang lebih baik. Namun tidak bagi sebagian besar lainnya. Ekonomi, misalnya, dirasa masih sulit. Infrastruktur publik tetap buruk, bahkan sebagian lebih buruk. Begitu juga korupsi dan perampokan dana-dana publik, terus saja terjadi.
Partai-partai politik dan figur-figur yang terpilih dari tiga kali pemilu pasca 1998, tak mampu memenuhi harapan dan ekspetasi publik. Bahkan cukup banyak di antara mereka yang kemudian berlaku "khianat".
Masyarakat banyak yang kehilangan harapan: apatis, tak percaya lagi pada janji-janji apa pun yang disampaikan para kontestan dan kandidat saat masa-masa kampanye. Sebagian memilih untuk tidak memilih alias golput, sebagian lain berubah jadi amat pragmatis: hanya mau datang ke TPS jika digerakkan fulus atau imbalan langsung jangka pendek.
Maka masa kampanye kita pun berubah drastis dalam dua pemilu terakhir. Kampanye bukan lagi ajang mentransaksikan ide dan gagasan untuk membangun Indonesia ke depan serta adu tanding rekam jejak prestasi kandidat, tapi adu tanding tabur duit dan sembako. Setiap satu suara, dihargai dengan nilai nominal rupiah tertentu. Tak heran para cukonglah kini yang lebih banyak menentukan dan mewarnai arah politik Indonesia. Sungguh negeri ini dalam bahaya.
Bagaimana membenahi semua ini? Haruskah kita makin apatis menyikapinya?
Ini akhirnya berpulang pada sikap kita semua, anak-anak bangsa, pewaris syah negeri ini. Jika skeptisme dan apatisme yang terus dipupuk, maka para begundallah yang akan memenangkan banyak pertarungan politik, dan merekalah yang akan mengendalikan biduk negeri.
Sebaliknya, jika kita tetap memiliki semangat, optimisme dan kemampuan berpegang pada akal sehat, tetap terbuka peluang untuk kita mewujudkan harapan Indonesia baru, seperti reformasi yang kita cita-citakan.
Hidup memang selalu memberi pilihan. Sebagai rakyat merdeka--walau belum benar-benar merdeka dalam arti sepenuhnya--kita bebas menentukan pilihan itu. Kita bebas memilih mengutuk atau mencaci. Kita juga bebas memilih diam atau tak peduli. Sebagaimana kita juga bebas memilih tetap bersuara dan berkeringat.
Mari memilih untuk Indonesia yang lebih baik. Kenali dan telisik lebih jauh figur-figur dan partai-partai yang mencoba merebut hati kita sebelum kita menetapkan pilihan.
Jangan biarkan negeri ini dikelola para bandit dan maling, karena sikap apatis dan kemalasan kita menggali informasi lebih jauh.
Membangun Indonesia tidak cukup hanya dengan mengeluh, menggerutu, dan menyalahkan, tapi harus dengan kerja keras diawali terpilihnya para pemimpin yang public minded: tulus bekerja untuk masyarakat luas, bangsa, dan negara. Semoga! Selamat pagi. Selamat beraktivitas.
No comments: